Kebingungan yang semakin memuncak

    Malam ini senyap datang, entah darimana datangnya angin dingin yang mencekam. Aku mulai menarik selimut untuk tidur dalam diam tapi nyatanya pikiran tidak mengijinkan malam ini berjalan dalam impian. Ku tutup rapat celah jendela yang terbuka, berharap kantuk segera tiba, tapi aku masih belum tidur juga. Lalu tiba-tiba saja aku mulai berpikir untuk berdiskusi dengan diriku sndiri tentang keresahan ini:

Ketika berharap dan yg diharapkan itu justru tdk ada. Terlepas dari rasa ingin memiliki lebih dari yg dimiliki skrg. Sepertinya manusia memang serakah soal pengertian, berdalih kewajaran untuk bisa mendapatkan hal di luar nalar. Sama halnya dengan meraih kesempatan yang kadang dipinta dengan seenaknya apalagi memaksa Tuhan dan memintanya dengan tidak sopan.

Dan ketika kesempatan sudah d depan matapun knpa gak aku ambil juga, entah karena ada hal yg harus dibereskan dari yg udh d ambil sebelumnya. Inipun menjadi pertanyaan yang membingungkan. Kenapa tidak aku ambil saja dan menyederhanakan keadaan, seperti kata orang-orang bahwa "kesempatan tidak akan datang dua kali".


Pertanyaan makin memuncak, kebingungan semakin jelas terlihat. Seperti ada janji yg harus ditepati sampai tuntas, knpa rasanya makin berat. Bahkan untuk mengambil resikopun rasanya takut.


Ada hal yg membuat hati tergerak untuk bertindak. Mengarahkan ego yg semakin memuncak, mungkin sampai tdi malam puncaknya ketika ditanya kemauanku apa.


Sebenarnya keinginanku tdk banyak. Aku hanya ingin menjadi org baik, menjalani hidup apa adanya tanpa respon jelek dan diledek.

Jika seseorg punya prinsip dlm hidup, maka aku punya keyakinan untuk mnjalaninya. Hidup diatur oleh penciptanya, maka hiduplah dgn keyakinan kepadanya.

Comments

Popular Posts