Jangan biarkan orang bilang "Kamu tidak boleh bersuara"
Hai semua!
Kembali ada keinginan untuk menulis lagi disini. Setelah melewati perjalanan yang hampir gila, kini saatnya untuk berbagi pada kalian yang menunggu cukup lama.
Mungkin bisa kita mulai ceritanya.
Berawal dari sebuah film yang saya tonton pada film berjudul "Yuni" yang menceritakan seorang remaja yang terjebak dalam budaya patriarki, kasihan. Hidupnya sederhana dengan usia yang masih muda dia berperan apa adanya. Sebagai seorang remaja yang sangat muda dia memikirkan hal-hal diluar usianya. Menurut saya, banyak campur tangan dalam penggambaran tokoh Yuni, ada hal unik pada karakter ini. Dia mampu menuai banyak perspektif atas hal baik dan buruk. Keputusan atas perbuatan yang dia lakukan baik atau buruk bukan semata-mata keinginannya, tapi seperti ada dialog antara dia dan dirinya yang lain.
Menarik.
Sampai di akhir cerita dia terlihat bebas atas keputusannya. Keputusan yang menurut saya sangat adil bagi Yuni dan penonton. Mau bagaimanapun, Yuni adalah seseorang yang berhak bahagia atas pilihannya sendiri. Keterlibatan dia dengan oranglain itu bukan menjadi arah jalan hidupnya. Ya, meskipun awalnya sikap tidak enakan dia mendominasi dan susah menolak, tapi paling tidak dia memberi opsi pada dirinya. Memberi seribu kemungkinan pada jawaban 'iya' dan 'tidak' dan semuanya itu dia pikirkan dengan sangat hati-hati.
Ada satu perkataan dari film ini yang saya garis bawahi. Jangan biarkan orang bilang "Kamu tidak boleh bersuara". Ucapan ini keluar dari seseorang yang menjalani hidupnya dengan sangat berat. Saya jadi berpikir bahwa selama ini yang saya pikirkan justru bukan diri saya. Ada banyak hal yang membuat saya memilih untuk diam dan itu memberikan sosok jahat untuk diri saya sendiri.
Dalam memahami risiko. Ada banyak sekali hal yang mungkin terjadi dalam hidup ini. Risiko pada setiap keputusan yang diambil seharusnya bukan menjadi kesalahan untuk si pengambil keputusan. Kalian paham? Soal risiko? Tentang hal dibalik keputusan?
Sebagian besar orang yang baik akan mengambil keputusan yang risikonya paling sedikit, apa masalahnya selesai? Tidak. Sisanya adalah orang-orang pemberani yang mengambil keputusan dengan risiko yang besar. Dia puas? Tidak juga. Inilah yang dinamakan kalkulasi. Ada takaran dari prilaku yang manusia lakukan.
Cara berpikir Yuni yang saya suka. Berani mengambil risiko dan tidak hanya berhenti setelahnya, tapi akan siap menerima risiko yang lebih besar lagi. Itulah yang akan menjadikannya dewasa. Bagaimana tidak seorang remaja akan kehilangan banyak kesenangan di usianya dan harus bergabung dengan wanita tua yang bernasib sama. Mungkin dalam pikiran Yuni dunia ini tidak memihaknya atau paling tidak menilai kehidupan ini terlalu jahat kepadanya. Tapi sekali lagi, itulah pilihannya!
Akan sulit sekali menjalani hidup yang tidak kita harapkan. Tentu saja banyak penolakan dan gangguan yang begitu besar. Menyebabkan kerumitan baru yang bercabang tak terselesaikan. Pada titik itu pula merasa serba salah akan sering kita rasa. Tapi diam juga bukan solusi, jadi selesaikan semampunya sampai sudah tidak ada hal yang mungkin dilakukan lagi, dengan tanpa dipaksa berhenti.
Manusia itu terbentuk dari dua sisi yaitu sisi benar dan sisi salah. Semuanya akan beriringan selamanya. Kenapa harus takut merasakan keduanya? kenapa masih bingung dan berhenti berjalan? Sementara kita harus terus bergerak seperti waktu. Apa mungkin kalkulasi di pikiran saat ini sedang mendominasi? Ya bagaimana tidak. Seseorang yang gak enakan memang banyak sekali pertimbangan. Setidaknya berikan pertimbangan yang baik versi masing-masing.
Dari kejadian yang pernah dialami, soal keputusan terberat yang pernah kita ambil mau itu tentang bahagia atau sengsara, keduanya perlu tanggung jawab yang serius. Kita tidak bisa melakukan segalanya sendiri, akan hadir beberapa orang yang terlibat dan kita harus sangat siap. Siap akan membahagiakan atau menyakiti. Keduanya akan terjadi, dan itu pasti. Ikuti saja segala hal soal kehidupan dan jangan pernah menolak apapun. Semua itu akan menjadi pelajaran berharga yang berkesan beda.
Bergerak, berbicara, berubah, ikuti alurnya. Jangan biarkan semua orang menilai kita tidak benar karena hanya bisa diam dan meninggalkan. Berikan satu alasan atas perbuatan. Perbaiki yang pernah kita rusak. Susun cara berdamai yang paling menyenangkan. Atur semuanya, lakukan dengan semestinya.
Memang tidak mudah melakukan itu semua. Banyak privasi yang harus kita jaga, banyak kata yang harus di susun agar bisa terbuka. Butuh waktu. Tapi saya yakin, kita mampu!
Begitu banyak yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini, dengan tidak hanya melibatkan perasaan sendiri tapi juga mencoba melibatkan perasaan orang-orang yang sedang bingung dan mungkin bernasib sama. Menyimpan kenyataan, berlagak kuat menghadapi sendiri dengan diam padahal sangat membutuhkan teman. Tidak memperlihatkan kesedihan padahal sangat ingin berteriak hebat.
kita pada dunia. Berbicaralah dengan seseorang di kala duka demi kelangsungan hidup yang lebih nyaman. Dan setelah semuanya tersampaikan, saatnya perlihatkan cara kita memperlakukan kehidupan.
Kita berhak bersuara.



Comments
Post a Comment