Potret dan Ingatan
Ingatan masa kecil datang lagi, dimana aku tidak boleh banyak ngomel ke Mbah karena beliau hanya mengerti bahasa Jawa saja, kebayang kan kalau seminggu di Solo percakapan kami hanya dengan isyarat saja haha tapi kami saling mengerti dan menghargai. Mbah selalu mengajarkan hidup sederhana dan penuh makna meskipun kami tidak pernah bicara tapi aku mempelajari gerakannya.
Ada tetangga Mbah yang punya anak kecil juga, Namanya Uti, tpi aku panggil dia Mba Uti. Mungkin sekarang dia sebesar aku mungkin sudah bekerja, atau menikah lalu punya anak. Kabar terakhir aku tau dari ayah Mba Uti dan keluarganya pindah rumah entah ke Kota mana. Semoga dia sehat selalu, aku hanya ingat rambutnya yang selalu di kepang, main sampai larut malam, nonton tv di rumahnya karena waktu itu TV adalah barang yang langka dan dia mengenalkan aku ke ibu warung ketika kami jajan. Aku masih ingat ucapannya "mba, ini kenalin teman uti dari Bandung, dia tidak bisa bahasa Jawa" seneng sekali jika kita bisa dipertemukan lagi, dengan teman masa kecil yang aku jamin dia sudah lupa dengan wajahku. Ah Uti, sehat selalu dimanapun kamu berada. Senang bisa mengenalmu.
Sudah lama sekali tidak menjenguk Solo, setelah kepergian Mbah.
Sampai ada kesempatan di bulan April tahun ini ayah mengajak aku pergi ke Solo naik kereta, sayangnya aku tidak ikut berangkat karna acaraku yg tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya ayah pergi sendirian (kalian bisa lihat di foto ini) semua orang yang ada disitu adalah kerabat ayah, yang tak banyak aku tahu, aku hanya kenal Mas Eko dan kakak ayah Pakde Paimin. Selama di Solo ayah membagikan beberapa foto, banyak sekali. Dan lagi hanya beberapa orang saja yang aku tahu selebihnya aku gak kenal. Mungkin benar apa kata pepatah "Tak Kenal maka tak sayang". Mungkin ayah juga perlu banyak waktu untuk mengenalkan padaku satu-satu. Harus ada banyak pertemuan untuk membangun ingatan yang lebih lama. Dari situlah kasih sayang akan terbentuk dan menjadi ingatan yang pekat.Aku lanjutkan foto yang lain. Foto yang ini adalah masa dimana ayah punya dua anak, yang dipangkuan ayah adalah kakak perempuanku, Tahyu. Satu-satunya Kakakku yang sudah menikah, sekarang tinggal di Gersik bersama suaminya dan punya satu anak yg lucu tiada tara. Namanya Shazfa, lucu banget dia.
Dulu ayahku seorang seniman, dia pandai melukis di atas kanvas yang besar, makanya setiap ada PR melukis di sekolah aku selalu minta bantuan ayah, diajari maksudnya. Belajar banyak hal soal warna dan arsiran. Bagi ayahku, seni adalah jalan kehidupan. Kehidupan yang membawa ayah menemukan ibuku dan menetap di Bandung. Ibuku yang memakai kerudung putih yang cantik.
Dulu, kami sering diceritakan berbagai pengalaman ayah mendekati ibu. Pada intinya, perjuangan seorang laki-laki diukur dari keberanian. Bukan dengan besarnya materi yang diberikan tapi kekuatan tekad yang dikedepankan dan usaha untuk meyakinkan.
Berikutnya adalah Aku. Anak ketiga dari ayah dan ibu dengan mengenakan baju warna merah menyala menahan tangis karena takut pada kamera.Beruntungnya aku menemukan foto ini terselip diantara album foto yang sudah usang. Ini foto satu-satunya yang aku punya saat bayi.
Sejak kecil sudah berada ditengah-tengah. Sebuah posisi yang netral dan imbang. Seiring berjalannya waktu keseimbangan berbanding terbalik dengan kehidupan yg dijalani, begitu banyak takaran yg mendominasi.
Takaran kepercayaan yang kerap susah dipahami kini menjadi ukuran hidup saat ini. Diwarisi sifat yang diturunkan dari keduanya membuat saya sadar tak sadar sudah melalui banyak hal. Kini aku merasa sudah sebesar harapan ayah tak lepas dari beberapa pencapaian dan kegagalan. Aku susun satu hal demi satu hal, dari bermacam ukuran dan bentuk. Bentuk yang tdk beraturan sampai menjadi sebuah bangunan penuh cerita. Bangunan yg kini disebut rumah, dengan atap dan semua penghuninya.
Jujur saja, jika foto bisa mengembalikan ingatan, aku sangat setuju.
Tpi ini bukan tentang foto. Maksudku, kenangan demi kenangan bersama orang yang pernah hadir mengisi kehidupanku mereka tidak akan pernah aku lupakan.
Sekian. terima kasih telah membaca sampai akhir:*






Comments
Post a Comment